Jumat, 03 Februari 2017

Nilai Historis dalam Anime Patema Inverted

Mungkin kalian sudah tidak asing lagi dengan judul anime yang satu ini yaitu Patema Inverted yang dalam bahasa jepang Sakasama no Patema. Sebuah anime unik dengan genre Sci-fi menceritakan tentang sebuah dunia yang memiliki 2 gravitasi yang berlawanan. Mungkin terdengar aneh, tapi ada beberapa hal yang menarik perhatian saya sehingga menulis artikel ini.


Selain memiliki gaya penyajian dan cerita yang unik, anime ini juga memiliki nilai historis yang tersirat di dalamnya. Sesuatu yang mungkin baru untuk kalian dan menarik untuk kita bahas.

Seperti sub judul blog ini yaitu ‘Blog Rekomendasi dan Analisis Anime’ kali ini Otamegane akan menyajikan sebuah analisis singkat dengan mengangkat tema cerita dalam Patema Inveterted. Tapi sebelum membahas lebih jauh tentang nilai tersiratnya, pertama kita akan membahas cerita yang tersurat dalam anime ini.

Sinopsis

Petema adalah nama pemeran utama dalam anime movie ini. Digambarkan sebagai seorang gadis muda yang pemberani dan penuh rasa ingin tahu. Sejak Kecil Patema sudah hidup di dunia bawah tanah dan sekalipun tidak pernah melihat dunia luar. Dan rasa ingin tahunyalah yang akan membawanya menuju kebebasan yang menakutkan.

Di bawah tanah, terdabat banyak sekali pipa-pipa besar dan Patema biasanya menjelajahi jalan melewati pipa untuk menemukan hal-hal yang baru. Dan suatu ketika, dia melihat sebuah lubang yang sangat besar dan dia pun jatuh ke atas.

Kok jatuh ke atas? Mungkin itu yang teman-teman herankan ketika membaca kata-kata di atas. Seperti yang saya jelaskan dipembukaan kalau anime ini menceritakan dunia yang memiliki 2 gravitasi dimana patema yang selalu hidup di bawah tanah memiliki gravitasi ke atas atau dengan kata lain ‘jatuh ke atas’.

Karena kecelakaan tersebutlah dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Age. Awalnya mereka berdua bingung karena melihat keadaan terbalik antara satu dengan yang lain. Tapi karena situasi yang mencekam pada saat itu, Age memutuskan membantu Patema bersembunyi.

Dari sanalah pertemanan mereka yang penuh bahaya terjalin dan pertualangan untuk menemukan jawaban atas misteri yang membuat dunia mereka berbeda pun dimulai.

Pendapat Saya

Saya menganggap kalau movie Patema adalah salah satu anime movie terbaik yang pernah saya tonton karena selain ceritanya yang menghibur, grafis dan pesan dari anime ini sangat menginspirasi.
Tapi jujur saja, saya sedikit pusing ketika menonton anime ini bukan karena alur ceritanya yang rumit tapi karena gambarnya yang sering bolak-balik.

Dan inilah inti dari artikel ini, nilai historis yang ada dalam anime Patema Inverted.

Baca Juga: 41 Rekomendasi Anime Romance Terbaik Sepanjang Masa

Nilai Historis Anime Sakasama no Patema

Yang saya maksud di sini adalah nilai sejarah sebenarnya yang, menurut saya, menginspirasi cerita anime ini. Lagu ending dalam anime ini menggunakan bahasa asing yang bukan bahasa jepang. Awalnya saya mengira kalau lirik lagu tersebut adalah bahasa inggris tapi ternyata menggunakan bahasa yang mungkin tidak akan kalian sangka-sangka.


Esperanto. Itulah nama bahasa yang digunakan dalam ending lagunya. Berdasarkan asal usulnya, bahasa dibagi menjadi 2 yaitu CONLANG (Constracted Language) atau bahasa buatan dan NALANG (Natural Language) atau bahasa alami. Bahasa Esperanto sendiri termasuk ke dalam bahasa buatan sedangkan bahasa Indonesia, inggris, dan jepang termasuk ke dalam bahasa alami.  Dan Esperanto menjadi bahasa buatan terpopuler di dunia dan mungkin satu-satunya yang masih ada sampai sekarang.

Kenapa Harus Bahasa Esperanto?

Apakah kalian pernah bertanya kenapa anime Patema memilih bahasa ini dari sekian banyaknya bahasa di dunia? Sebenarnya kita masih membahas kulitnya saja karena yang sebenarnya akan kita bahasa adalah orang yang membuat bahasa ini karena jika diartikan Esperanto berarti ‘seseorang yang berharap’ yaitu sebuah simbol harapan dari sang pembuat.

Baca Juga: 21 Anime Paling Sedih yang Akan Membuat Kalian Menangis

Kisah Mengharukan di Balik Bahasa Esperanto

Si pembuat bahasa ini bernama Ludwik Lejzer Zamenhof, seorang pria keturunan yahudi yang tinggal di Polandia. Masa kecil dari Zamenhof sendiri sangat sulit karena harus berada di wilayah penuh dengan peperangan dimana Polandia sendiri dulu adalah bagian dari Uni Soviet. Tapi yang paling dia benci bukanlah peperangan tetapi perbedaan.

Polandia dikelilingin oleh Negara-negara tetangga yang berbeda dimana disana tinggal para keturunan yahudi, Polandia, Jerman, dan Rusia. Setiap dari Negara  tersebut menggunakan bahasa mereka masing-masing sehingga tidak ada yang saling mengerti. Itulah yang menyebabkan perbedaan dan perpecahan di antara mereka sehingga setiap mereka membentuk aliansi yang berbeda dan saling memerangi satu sama lain. Dari sanalah Zamenhof memahami pentingnya sebuah bahasa untuk menyatukan perbedaan tersebut.

Dia kemudian menyelesaikan bahasa buatan tersebut ketika SMA tetapi belum bisa menerbitkannya karena tidak mencukupi umur. Akhirnya dia harus mengurungkan diri untuk menyebarkannya dan memilih untuk menjadi seorang dokter terlebih.

Ketika dia menjadi seorang dokter, dia akhirnya memutuskan untuk menerbitkan bukunya dengan judul Doktoro Esperanto ‘seorang dokter yang berharap’. Dia memilih judul tersebut karena akan berbahaya jika menerbitkan buku seperti itu ketika zaman yang pernuh perperangan.

Meskipun awalnya mendapat penolakan dan kecaman tapi akhirnya bahasa ini diterima di beberapa Negara asia dan eropa. Sampai sekarang pun bahasa ini tetap hidup sebagai bukti tentang pengorbanan seorang pria yang memiliki harapan untuk mempersatukan dunia.

“Tempat di mana aku lahir dan menghabiskan masa kecil menuntunku kepada semua perjuangan di masa depan. Di kota Białystok, penduduk dibagi menjadi empat elemen yang berbeda: Rusia, Polandia, Jerman dan Yahudi; masing-masing berbicara bahasa mereka sendiri dan memandang yang lain sebagai musuh. Di kota seperti ini, sifat sensitif terasa lebih akut daripada di tempat lain penderitaan yang disebabkan oleh perbedaan bahasa dan itulah hal utama yang menjadi pembeda di antara keluarga-keluarga kami. Saya dibesarkan sebagai seorang idealis; Saya diajarkan bahwa semua orang adalah saudara, sementara di luar sana,  di setiap langkah, saya merasa bahwa tidak ada orang yang bisa disebut saudara, hanya Rusia, Polandia, Jerman, Yahudi dan sebagainya.  Hal ini selalu menyiksa dan menjadi konflik batin saya, melihat satu sama lain saling melempar senyum tapi seperti ada kejahatan di dalam hati mereka. Dari sanalah saya mulai berharap bahwa suatu hari nani saya pasti bisa menghancurkan semua dinding-dinding ini.”

— L. L. Zamenhof, dalam surat untuk Nikolai Borovko, 1895.

Penutup

Sudah ada gambaran kan hubungan antara bahasa Esperanto dan anime Patema? Yup, keduanya sama-sama menceritakan tentang perbedaan yang menyebabkan permusuhan. Terlebih lagi, mereka tidak pernah berusaha untuk mengenal satu sama lain terlebih lagi berkomunikasi sehingga menganggap antara satu dan yang lain adalah musuh.

Jadi, menurut saya, pemilihan bahasa Esperanto sebagai lagu ending anime ini bukanlah hal yang kebetulan  karena nyatanya keduanya memang memiliki keterkaitan satu sama lain dan pesan yang ingin disampaikan anime ini adalah 'saling memahami satu sama lain melalui bahasa’.

Dan sebagai penutupnya teman-teman bisa mendengarkan lagu ending Sakasama no Patema di bawah ini:


EmoticonEmoticon